Lima “Obat” Penawar Galau





 


GALAU adalah kata yang sangat  popular akhir-akhir ini terutama dikalangan muda generasi bangsa. Semua telah terjangkiti sebuah kata yang menandakan seseorang tengah dilanda rasa kegelisahan, kecemasan, serta kesedihan pada jiwanya. Herannya banyak orang yang bangga mengatakan dirinya sedang galau. Entah itu pejabat, pegawai, buruh, pengangguran, kaya, miskin, tua, muda, pelajar ataupun santri telah latah mengkampanyekan ‘galau’ di negeri kita ini.

Keresahan akan senantiasa menghantui hidup manusia apabila pikirannya dibiarkan terombang-ambing oleh permasalahan hidup. Apalagi keyakinannya pada keberadaan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai penolong masih terjebak dalam ritual adat-istiadat semata, sehingga berhala menjadi tempat pengaduannya. Fenomena tersebut begitu jelas di depan mata kita dan terjadi pada sebagian besar umat Islam. Kesibukkan dan rutinitas menjebak mereka yang merasa ‘galau’ untuk mengambil langkah pragmatis dalam penyelesaian problema hidup.

Pada dasarnya, manusia adalah sosok makhluk yang lemah dan bergelimang dosa. Wajar jika disebut sebagai makhluk yang paling sering dilanda kecemasan, apalagi ketika dihadapkan pada permasalahan hidup. Inilah fitrah bagi setiap insan yang memiliki akal pikiran dan tidak perlu dirisaukan karena Allah Subhanahu Wata’ala telah menyiapkan penawarnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala di dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat ke 28 yang artinya :

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.”
Orang yang senantiasa mengingat Allah Subhanahu Wata’ala Ta’ala dalam segala hal yang dikerjakannya, tentu akan memiliki dorongan positif pada diri dan jiwanya. Karena dengan mengingat Allah Subhanahu Wata’ala dalam menghadapi segala persoalan, dijamin pikirannya akan cerah dan bijak serta jiwanya diselimuti ketenangan akan datangnya bantuan Allah Subhanahu Wata’ala. Dan sudah merupakan janji Allah Subhanahu Wata’ala Ta’ala, bagi siapa saja yang mengingatnya, maka didalam hatinya pastilah terisi dengan ketentraman-ketentraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.

Logikanya, jika pejabat ingat pada Allah Subhanahu Wata’ala maka dia akan merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam menjalankan amanahnya. Dan dengan demikian, peluang berbuat curang apalagi sampai menilap hak rakyat dapat terminimalisir. Begitu juga remaja dan pemuda yang senantiasa menjalin kedekatan dengan Allah Subhanahu Wata’ala, maka kehidupannya memiliki arah pasti yang jauh dari pengaruh bisikan hedonis. Ditambah lagi rakyat secara keseluruhan menghidupkan nilai-nilai ke-Tuhan-an dalam aktivitasnya setiap saat, maka aroma religious akan mampu memberikan kedamaian pada jiwa-jiwa manusia.

Terkhusus umat Islam, jika benar-benar menjalankan dan mengindahkan semua syari’at yang telah dibawa Rasulullah, sudah barang tentu kejayaan umat peradaban akan kembali mewarnai dunia ini. Sejarah peradaban Islam telah membuktikan bahwa tidak ada istilah ‘galau’ pada umat manusia ketika aturan-aturan Allah Subhanahu Wata’ala ditegakkan di atas bumi ini. Artinya, Islam adalah ajaran yang menentang ‘galau’ karena syari’at Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Ayat-ayat penawar galau
Ayat pertama, berserah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Kita sangat dituntut untuk memiliki semangat bekerja keras, namun apapun hasilnya harus diserahkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagaimana telah berfirman Allah Subhanahu Wata’ala yang artinya: 

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ
وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.“ (QS: al Insyirah: 7-8).

Dengan berserah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, kita akan melakukan apapun dengan ketenangan dan kenyamanan bathin karena ada jaminan Allah Subhanahu Wata’ala yang senantiasa memelihara ciptaan-Nya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah  akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah   melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah  telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaaq : 3).

Ayat kedua, bersabar karena Allah Subhanahu Wata’ala. Bersabar disini bukan berarti menunggu dan pasrah begitu saja, sabar dalam artian menerima takdir Allah Subhanahu Wata’ala sebagai yang terbaik dan senantiasa mempersiapkan diri untuk melakukan yang terbaik pula. Allah Subhanahu Wata’ala menegaskan di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat ke 200 yang artinya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
 “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, supaya kamu beruntung.”

Dan sesungguhnya dengan bersabar Allah Subhanahu Wata’ala sedang menyertai kita. Bukankah suatu kemuliaan bagi manusia jika sang Maha Pencipta sudi menyertai hidupnya? Inilah janji Allah Subhanahu Wata’ala Allah Subhanahu Wata’ala Ta’ala dalam firman-Nya;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴿١٥٣
“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah:153).

Ayat ketiga, berteguh hati dan fikiran. Flash-back terkait makna ‘galau’ jika dipahami keresahan hati, maka kita sebagai umat Islam harus memiliki keteguhan hati dan fikiran bahwa Allah Subhanahu Wata’ala telah mengatur semesta alam ini. Jadi, tidak ada lagi kebimbangan mau jadi apa dan kemana masa depan kita, yang penting lakukanlah apa yang terbaik yang dapat dilakukan. Berikut Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah Subhanahu Wata’ala) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah : 105)

Ayat keempat, sedih dilarang Allah Subhanahu Wata’ala.
Sebagai umat Islam, kita harus merasa beruntung dalam berbagai hal kehidupan. Karena Islam telah merangkum aturan hidup manusia hingga akhir zaman, dan tidak sepatutnya seorang hamba Allah Subhanahu Wata’ala bersedih kecuali sedih karena dosanya. Allah Subhanahu Wata’ala memotivasi kita dalam firman-Nya;
لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala bersama kami.” (QS. At Taubah: 40)

Ayat kelima, menghadap Allah Subhanahu Wata’ala.
Adukanlah semua permasalahan kepada Allah Subhanahu Wata’ala karena pasti Allah Subhanahu Wata’ala mempunyai semua solusinya. Sangat wajar jika kita menemui masalah dalam menjalani kehidupan ini, namun jangan pernah mundur atau takluk pada permaslahan itu. Allah Subhanahu Wata’ala sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:
يَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al Fatihah 5)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat dari Allah Subhanahu Wata’ala yang mendorong umat Islam untuk tidak menjadi bagian dari orang yang mengkampanyekan ‘galau’, karena dengan berkoar-koar dirinya dalam ke-galau-an maka dia telah menurunkan derajatnya menjadi manusia yang tidak bersyukur dan enggan berfikir.

Kesimpulannya, umat Islam dilarang mengatakan ‘galau’ jika itu berimbas pada perilakunya yang kemudian menduakan Allah Subhanahu Wata’ala. Al-Quran dan As-Sunnah telah disempurnakan dalam merangkum aturan hidup manusia, sehingga tiada lagi problematika hidup jika kita bersandar pada sang pencipta kehidupan. Dan Islam pernah membuktikan dalam berabad-abad lamanya, yakni mampu memakmurkan kehidupan makhluk di jagat raya ini.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِي
“dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS . Al-Anbiya’ : 107).*/Zainal Arifin
Baca juga: Ayat-Ayat Anti Galau

sumber: http://www.hidayatullah.com


Read More Add your Comment 0 komentar


Wahai Pemimpin, Cintai Rakyatnya Bukan Jabatannya!







BELAKANGAN ini wajah bangsa Indonesia kembali diwarnai aksi demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM. Dalam aksi demo  yang berlangsung di berbagai kota di tanah air itu sebagian berjalan ricuh. Demonstran dan pihak keamanan terlibat saling lempar batu yang akhirnya dibalas dengan tembakan dan kejar-kejaran di antara keduanya.

Pemandangan seperti itu sebenarnya sudah biasa di Indonesia. Akan tetapi kali ini terlihat sangat istimewa karena boleh dikatakan cukup kompak dan dalam rangka satu tujuan utama, yaitu menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Sebuah aksi yang secara langsung melibatkan emosi dua unsur penting negara, yaitu rakyat dengan pejabat.

Pemerintah dengan kekuatan bersenjata nampaknya tetap tak berubah pikiran. Hal ini bisa dilihat dari kesigapan pemerintah dengan menurunkan kekuatan penuh aparat keamanan untuk mengontrol para demonstran.

Dalam logika pejabat, dalam hal ini pemerintah, menaikkan harga BBM  dipandang sebagai keputusan yang harus dilaksanakan walaupun seluruh rakyat Indonesia harus menjerit keras karena ancaman kemiskinan yang menganga di depan mata. Pemerintah seolah tak punya telinga dengan keluh kesah rakyatnya sendiri.

Sikap pemimpin (pemerintah) yang seperti ini akan menimbulkan aksi yang lebih keras lagi dari rakyat. Sebab rakyat dalam hal ini tidak diperhtiungkan dan tidak diperhatikan dengan baik. Bahkan rakyat akan merasa selalu dikorbankan untuk kepentingan-
kepentingan kekuasaan.

Siapapun yang menjadi pemimpin, jika sikap dan perilaku terhadap rakyatnya justru tidak bersahabat pasti akan menuai banyak protes bahkan kebencian. Dan, tidak satu pun pemimpin di dunia ini yang mengabaikan rakyatnya sendiri, kecuali telah kehilangan hati nurani. Padahal makna pemimpin itu sendiri sejatinya adalah pelayan bukan juragan.
Tetapi bagaimanapun harus diakui, inilah produk demokrasi. Sebuah produk pandangan hidup yang melahirkan sistem tata negara yang menegasikan ilmu dan otoritas, termasuk otoritas nabi dan tentu otoritas Tuhan atau wahyu.

Dari sinilah kita akan temui jawaban mengapa demokrasi dan para pemimpin yang dihasilkan oleh sistem ini sebagian besar buta dan tuli terhadap aspirasi dan nasib rakyatnya. Dan nampak begitu beringas manakala jabatannya terasa digoyang, serta melakukan segala cara untuk mendapatkan jabatan dan mempertahankannya selama-lamanya.

Jabatan yang benar-benar peduli yang lemah

Pandangan yang keliru terhadap jabatan, menjadikan sebagian orang saat ini sering asal pilih pemimpin. Asal bisa dikendalikan untuk memenuhi hasrat politiknya, seseorang ditunjuk sebagai ini, sebagai itu. Sebaliknya siapa yang dirasa tidak potensial secara mterial akan segera ditinggalkan.

Dalam Islam tidaklah seperti itu. Seorang pemimpin harus benar-benar selektif dalam memilih teman dekat, terkhusus kepada orang-orang yang akan diajak bekerjasama dalam mensukseskan kepemimpinannya, terutama dalam upaya mensejahterakan rakyat.

Akan fatal akibatnya jika seorang pemimpin menyerahkan jabatan kepada orang yang belum jelas kualitas imannya. Apalagi menyerahkan jabatan hanya karena hubungan kekeluargaan, kekerabatan, ataupun hal-hal yang tidak didasarkan pada ilmu dan keimanan.

Tirulah cara sahabat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wassallam dalam memilih rekan dekat untuk mengisi jabatan umat.
Sebelum memilih siapa yang layak mengisi jabatan strategis di masa kepemimpinannya, Khalifah Umar bin Khattab melakukan penelitian (Fit and Propertes) terhadap kualitas sahabat yang akan dipilihnya. Tentu tidak seperti yang dilakukan oleh kebanyakan pemimpin kontemporer yang hanya menggunakan teknik wawancara, uji kognitif dan penandatanganan surat komitmen.

Muhammad Syadid dalam bukunya, “Minhaju al-Qur’an fi al-Tarbiyah” mengisahkan cara Umar bin Khattab dalam menilai kualitas keimanan orang yang akan dipilih mendampinginya dalam memimpin umat.

Kala itu Umar bin Khattab mengujinya dengan memberikan sekantong uang dinar. Dari Sa’id bin Yarbu’ bin Malik, ia bercerita. Ketika Umar bin Khattab memegang uang sebanyak 400 dinar dalam sebuah kantong, beliau berkata kepada pelayannya; “Bawalah ini kepada Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, lalu tungguhlah beberapa saat, lihatlah apa yang diperbuatnya dengan uang ini!”

Pelayan pun berangkat. Sesampainya dikediaman Abu ‘Ubaidah, pelayan Umar berkata; “Amirul Mukminin memberi uang ini untuk kebutuhan engkau!” Abu ‘Ubaidah menjawab; “Semoga Allah merahmati beliau”.
Abu ‘Ubaidah langsung memanggil pelayan wanitanya; “Bawalah tujuh keping kepada si fulan, lima keping kepada si fulan, dan……”, hingga uang sejumlah 400 dinar itu tak bersisa. Pelayan Umar pun kembali dan melaporkan peristiwa itu kepadanya.
Kemudian dengan sejumlah uang yang sama, Umar kembali memerintahkan pelayannya untuk membawakannya kepada Muadz bin Jabal. “Berikan uang ini kepada Muadz dan tunggulah seperti yang kau lakukan kepada Abu ‘Ubaidah!”
“Semoga Allah merahmati Umar,” ucap Muadz setelah menerima sekantung uang dinar. Lantas Muadz langsung memanggil pelayannya untuk membagi-bagikan 400 dinar itu.
Muadz berkata kepada pelayannya, “Pergilah ke rumah si fulan dan berikan kepadanya sekian, kemudian ke rumah si fulan sekian, lalu ke fulan sekian……” hingga tiba-tiba datanglah istri Muadz seraya berkata, “Wallahi, kita juga orang miskin, berilah!” Maka
Mu’adz memberikan sisa uang tersebut, dan ternyata tersisa dua dinar. Mendengar laporan pelayannya terkait perihal kedua sahabatnya itu gembiralah Umar bin Khattab karenanya. Umar pun berucap, “Mereka berdua benar-benar ikhwah (teman sejati dunia – akhirat)”.
Umar sangat selektif, cermat dan super hati-hati dalam memilih orang untuk menemaninya dalam memimpin. Ia tidak mau terjebak oleh penampilan lahiriah saja.
Sebab tidak menutup kemungkinan penampilan lahiriah tidak mewakili penampilan batiniah yang sesungguhnya.
Ahmad bin Qais bercerita bahwa Umar pernah menahannya dalam jangka waktu satu tahun. Suatu saat Umar berkata, “Tahukah engkau mengapa aku menahanmu? Saya ingin mengujimu karena saya tahu secara lahiriah engkau baik. Saya ingin mengetahui, apakah batinmu pun baik, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam telah mengingatkan kita akan perihal orang munafiq yang pandai bersilat lidah. Dan ternyata engkau tidak seperti itu, engkau benar-benar teman yang baik.”
Jabatan Itu Amanah
Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan risalah Islam ini untuk meluruskan pandangan manusia terhadap segala hal. Islam memberikan petunjuk akan hakikat segala sesuatu, termasuk soal jabatan. Dalam Islam jabatan bukanlah kedudukan yang menjanjikan kebahagiaan. Apabila jabatan dipegang oleh orang yang buruk keimanannya, jelek kredibilitasnya, maka kehancuran dunia akhirat telah mengintainya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam beserta sahabatnya telah memberikan contoh praktik bagaimana semestinya umat Islam menyikapi jabatan. Sekalipun sebagai khalifah rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam tidak pernah menikmati makanan-makanan lezat, fasilitas mewah, apalagi jaminan berupa anggaran rumah tangga. Beliau sering berpuasa karena tidak ada yang bisa dimasak.

Begitu pula Abu Bakar ra. Meskipun telah diamanahi menjadi pelanjut kepemimpinan rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam, Abu Bakar tetap mencari nafkah sendiri dengan berjualan di pasar. Demikian pula halnya dengan Umar bin Khattab yang tak pernah dekat kecuali dengan anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang tertindas lagi kesusahan.

Tetapi semua itu kini tidak berlaku di negeri ini. Saat ini jabatan dikejar-kejar sampai menghalalkan segala cara. Jabatan menjadi ajang perebutan, sehingga terjadi perpecahan dan bentrokan yang tidak semestinya terjadi. Lihat saja kasus pemilukada di tanah air yang sering berujung dengan kericuhan dan kerusuhan.

Sebagai seorang Muslim kita harus kembali memandang sesuatu dengan tuntunan wahyu. jangan memandang sesuatu baik kecuali Allah dan rasul memang menilai itu baik. Demikian pula sebaliknya, jangan memandang sesuatu buruk kecuali Allah dan rasul menilainya buruk.

Oleh karena itu merupakan satu langkah yang tidak indah, tidak baik, dan tentu tidak benar, jika kita sesama Muslim harus adu otot, adu jotos untuk memperebutkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diperebutkan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam melarang keras hal ini. Sebagaimana sabdanya; “Sepeninggalku nanti janganlah kalian kembali menjadi orang-orang kafir, sehingga sebagian menghajar tengkuk sebagian yang lain.” (HR. Bukhari).

Seperti sekarang sering terjadi, terkadang tanpa sadar kita sesama Muslim saling sikut, saling jilat dan saling injak hanya untuk urusan jabatan agar bisa mendapatkan kekayaan.
Sebagian kelompok elit sengaja menggunakan masyarakat kecil untuk melakukan kerusakan demi kepentingan politisnya. Bahkan ketika rakyat menolak suatu kebijakan dan menuntut perbaikan, sebagian pejabat malah menghadapinya dengan kasar hanya karena untuk mempertahankan jabatannya. Akhrinya terjadilah pertumpahan darah di antara sesama Muslim.

Padahal rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam melarang kita yang demikian itu. Tetapi apa mau dikata, ketika wahyu sudah tinggal bacaan. Kita tidak bisa hentikan, perilaku umat atau rakyat kian jauh dari tuntunan kebenaran sebab para pemimpinnya tidak lagi mengamalkan aturan Allah SWT.

Dengan demikian, masihkah kita ingin mendapat kekayaan dengan cara merengkuh jabatan? Memimpin dengan nafsu bukan ilmu? Padahal semua itu adalah amanah yang kelak pasti akan dipertanggungjawabkan.

Rasulullah mengatakan,  "Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian." (HR. Imam Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan, "Ada tiga orang yang tidak ditolak do'a mereka: orang yang berpuasa sampai dia berbuka; seorang penguasa yang adil; dan do'a orang yang dizalimi (teraniaya). Do'a mereka diangkat oleh Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, "Demi keperkasaanKu, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera." (HR. Tirmidzi)

Masalahnya, apakah selama menjadi pemimpin, kita semua ini adalah orang yang adil dan amanah?

Ketahuilah saatnya nanti ajal akan tiba melenyapkan segalanya. Saat di mana dosa akan diperhitungkan dan amal sholeh dilipatgandakan. Hanya pemimpin yang adil saja yang akan mendapatkan ridha Allah Subhanahu Wata’ala. Itulah pemimpin sejati, pemimpin yang rela menderita di dunia demi rakyat dan dalam rangka menegakkan kebenaran Islam.*/Imam Nawawi


Read More Add your Comment 0 komentar




Jiwa Kuat dan Dinamis dengan Bersabar

 
Orang yang kuat, yang kuat mengendalikan ketika marah

Senin, 07 Mei 2012

ORANG  yang kuat bukanlah orang yang memiliki badan kuat, pintar bergulat dan bersilat. Tapi orang yang kuat adalah orang yang jiwanya kuat. Sebab, jiwa yang kuat itu mempu membuat cara agar hati, fikiran dan badan tahan menghadapi tekanan. Sebaliknya, dalam jiwa yang lemah terdapat sifat-sifat merusak; putus asa, malas dan negative thinking.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: ”Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang menguasai jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari). Kemampuan untuk menguasai jiwa dan mengendalikannya itulah yang disebut sabar.
Sabar berasalah dari bahasa Arab shobaro – yang makna aslinya adalah menahan atau mencegah dari sesuatu. Dalam istilah ia dimaknai sebagai kemampuan jiwa untuk menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.
Dari definisinya tersebut saja, kita bisa menarik kesimpulan bahwa sabar, bukan identik dengan kepasrahan, ketidak mampuan atau pasif merespon peristiwa tertentu. Justru, sifat sabar memberi perintah untuk berbuat aktif-positif, merubah pandangan jiwa untuk melakukan kebaikan.
Orang yang mengendalikan jiwa emosional, misalnya membutuhkan tiga anggota tubuh; kerja akal, hati dan fisik. Akal harus mengarahkan, hati harus beriman dan fisik dikendalikan oleh keduanya untuk membalik jiwa negatif menjadi aktifitas yang bermanfaat. Tentu ini bukan kerja biasa.
Kekuatan menahan diri dari musibah atau kegalauan nasib biasanya dimiliki oleh orang-orang shalih. Ketika ada musibah, hatinya langsung terpaut dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia tidak menyorot kepada siapapun, tapi diterimanya sebagai sebuah peringatan-Nya. Karena merasa diperhatikan – dengan diberi peringatan oleh Allah itu – hatinya akan digerakkan untuk berbuat lebih baik lagi, bukan diam diri, pasrah menerima tanpa berbuat apapun. Atau tidak membalasnya dengan perbuatan buruk pula, tidak mengumpat Allah, dan jiwanya sama sekali tidak goyah untuk tetap berada di jalannya – tetap mengharap ridla-Nya (Abu Bakar al-Jazairi, Minhajul Muslim,118).
Maka dari itu, sifat sabar tidak mungkin ada kecuali dalam diri orang beriman. Orang sekuler – yang tidak menjadikan Tuhan tempat menggantungkan – pasti tidak sabar. Imam al-Ghazali mengatakan sebagai sebuah ruang di antara ruang-ruang agama yang tinggi. Tidak akan tertanam kecuali kepada orang yang mengenal Allah (al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin 4, hal. 61).
Bahkan sabar adalah bagian dari iman (syathrul iman). Berarti orang yang tidak bersabar, imannya belum sempurna. Hal itu telah disinggung oleh Allah dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 “Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu.” (QS. Ali Imran: 200). Ketika kita tidak kuat – dalam menahan dari emosi, kegalauan hidup dan musibah yang menimpa – maka kita dikategorikan orang yang lemah. Tidak saja lemah jiwa tapi juga lemah iman.
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً
Allah berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28).
Sabar ada tiga macam. Sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar untuk meninggalkan kemaksiatan dan sabar menghadapi ujian dari Allah.
Sabar dalam ibadah merupakan sabar yang paling sulit. Dari kesabaran menjelang ibadah sampai usai menunaikan ibadah. Menjelang ibadah, sabar berkait dengan niat. Ketika sedang beribadah kita diuji kesabaran agar selalu ingat kepada-Nya tidak kepada lainnya. Dan usai beribadah tidak membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain.
Perjuangan seperti itu digambarkan oleh Imam al-Ghazali. Bahwa menjelang sampai usai ibadah, jiwa kita terus-menerus diserang oleh penyakit yang bernama riya’. Jika tauhid kita lemah, maka jiwa kita pun pasti lemah, menyerah oleh serangan riya’ (al-Ghazali, Muhkhtashar Ihya’ Ulumuddini). Dalam beribadah, seseorang kebanyakan ingin menjadi riya’. Jika kita bersabar dengan ini, maka pertahanan iman kita jebol. Ibadahpun sia-sia. Sebab ibadahnya tidak dipersembahkan kepada Allah lagi tapi kepada yang lainnya.
Yang paling berat justru ketika usai beribadah. Serangan riya’ lebih dahsyat. Terkadang kita ikhlas selama ibadah tapi jatuh ketika ibadah telah kita tuniakan bebarapa waktu yang lalu. Maka, bersabar dalam konteks ini adalah menahan diri untuk tidak membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain.
Ada korelasi antar tauhid dan kekuatan jiwa. Orang bertauhid adalah yang segalanya bersandar kepada Allah dalam memandang realitas. Lawannya adalah madiyah (materialis/sekular). Kata al-Ghazali, orang yang menyandarkan kepada materi (I’timad ‘ala jamadat), pasti akan jatuh kejiwaanya. Karena materi tidak memiliki kuasa apa-apa. Sebaliknya, orang yang bertauhid tidak mudah goyah, sebab yang menjadi sandaran adalah Sang Maha Segalanya.
Sabar dari maksiat, yaitu menahat jiwa dan hati untuk tidak ghibah, dusta, dan perbuatan-perbuatan haram lainnya.
Sedang sabar terhadap musibah merupakan aspek kesabaran yang paling sering dinasehatkan banyak orang. Karena sabar dalam aspek ini merupakan bentuk sabar yang dalam sebuah hadits diriwayatkan :Dari Anas bin Malik ra, bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah.’ Wanita tersebut menjawab, ‘Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku.’ Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah Rasulullah. Lalu ia mendatangi pintu Rasulullah dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah, ‘(maaf) aku tadi tidak mengetahui engkau wahai Rasulullah SAW.’ Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama” (HR. Bukhari Muslim).
Lantas, bagaiman agar kita memiliki sifat sabar. Menurut Imam al-Ghazali untuk mencapai kesabaran yang tinggi memerlukan riyadhah (latihan). Paling penting dan utama dapat dilakukan dengan merenungkan kempali hakikat hidup di dunia dan akan kemana setelah hidup ini. Memikirkan nasib diri untuk tujuan hidup itu. Nafsu perlu bermujahadah, dimulai dari hal-hal ringan. Misalnya belajar menahan diri untuk menuruti keinginan memakan makanan mahal yang lezat, membeli pakaian mahal, dan hancurkan nafsu dari kemalasan. Jika sedang malas, maka bangkit, ambil wudhu, shalat dua rakaat dan mulailah aktifitas.
Maka ketidak sabaran harus diantasipasi sejak dini. Ingat, orang bersabar tidak akan ditinggalkan Allah. “Bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Anfal:46). Oleh sebab itu, hidupnya lebih tenang, dinamis positif, dan segala realitas selalu dipandang dengan kacamata iman.*/Kholili Hasib 


sumber: hidayatullah.com


Read More Add your Comment 0 komentar


Cinta Sang Mujahid Muda




Hari belum terlarut malam, senja pun belum mendekat. Bahkan mentari masih sangat menerpa dengan teriknya, tapi sepasang bola mata itu tampak telah begitu lelah. Sepasang mata itu tampaknya sudah sangat tertatih-tatih untuk menjaga agar tetap terjaga. Kelopak itu senantiasa tertarik jatuh meskipun ia berusaha mengangkatnya kembali.

Dalam pandangan yang kian menyempit itulah terpancar cinta dan kepuasan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Sepasang bibirnya yang kian memudar pun mengurai senyum pertanda bahagia yang jelas-jelas tak terkata. Bibir itu perlahan bergetar dan berusaha untuk bersuara.

“Sahabatku, saudaraku … hapuslah air mata yang tidak seharusnya mencucur itu. Tidak pantas kau cucurkan air mata itu untuk aku yang akan berjumpa dengan Kekasih-ku. Allah swt telah memilih saudaramu ini untuk syahid di jalan-Nya, apakah engkau tidak bahagia saudaraku? Hapuskan kelemahan itu dari matamu, perjuangan ini belum berakhir saudaraku… Engkau harus tetap berjalan teguh, melaju tanpa keluh. Sampaikan pesan pada ibuku bahwa anaknya tercinta telah menuju perjumpaan dengan sang Kekasih yang selama ini dirindukannya. Katakan pada ibuku untuk tidak membiarkan air matanya membasahi pipinya. Katakan bahwa aku sangat menyayanginya dan tidak ingin meninggalkannya, tapi Kekasih sejati telah memanggil dan tidak dapat ku menghindar darinya.”

“Lalu… lalu… bagaimana dengan Sholehah, calon isterimu itu? Bagaimana aku harus menjelaskannya???”. Sahabat itu bertanya dengan penuh getar dan air mata yang tetap tidak mampu ia bekukan.

“Katakan pada sholehah bahwa aku telah menemui Kekasih sejatiku. Katakan padanya bahwa Allah swt telah memilihkan kekasih yang lebih baik dan yang terbaik untuk dirinya dan juga untukku. Katakan padanya untuk tidak perlu berduka, karean aku telah pergi dengan senyum bahagia…”

“A… A… Aku … Aku …. Aku bersykur kepada Allah swt telah dianugerahkan seorang sahabat dan saudara sepertimu, yang telah membuatku tegar di jalan yang mulia ini.

“Aku… Aku… Aku sudah tak kuat lagi saudaraku… A.. A.. Allahu Akbar…”

Mata itu akhirnya terpejam dengan senyum gambaran kebahagiaan. Sang mujahid mudapun pergi selamanya untuk berjumpa dengan Kekasih yang senantiasa dirindukannya. Wajah pucatnya terlihat begitu ikhlas atas luka-luka dan darah yang mengucur di tanah Palestina itu.

“Sahabatku… kini engkau telah menemukan jawaban dari setiap kerinduan yang selama ini mengganggu tidur dan terjagamu. Engkau telah berhasil membuktikan besarnya cinta yang selama ini senantiasa engkau rasakan, dan engkau telah membuktikannya. Saudaraku, semoga kelak kita akan dikumpulkan di dalam surganya para syuhada…”

Sang sahabat pun melepaskan pelukannya perlahan, menghapus air mata yang masih membasahi tulang pipi. Masih terdengar bising peluru dan meriam yang memecah keheningan negeri di tempat kakinya berdiri.

“Allaha Akbar!!!” Ia pun kembali merangsek ke medan pertempuran.


Read More Add your Comment 0 komentar


 

About Me

Pengikut

© 2010 RAZHIB All Rights Reserved Thesis WordPress Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors.info